Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label SKRIPSI KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKRIPSI KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Desember 07, 2019

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PATOLOGIS PADA Ny. R UMUR 23 TAHUN P1A0 NIFAS HARI KE 10 DENGAN INFEKSI LUKA SECTIO CAESAREA DI RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO.

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PATOLOGIS PADA Ny. R UMUR 23 TAHUN P1A0 NIFAS HARI KE 10 DENGAN INFEKSI LUKA SECTIO CAESAREA DI RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO.

2.1.1 Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra￾hamil. Lama masa nifas ini 6-8 minggu (Ambarwati, dkk, 2010 : 1). 
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan. Masa nifas atau post partum disebut juga puerperium yang berasal dari bahasa
latin yaitu dari kata “puer” yang artinya bayi dan “parous” berati melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari Rahim karena sebab  melahirkanatau setelah melahirkan (Anggraini, 2010 : 1).
Masa nifas (puerperium) dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Dalam bahasa latin, waktu mulai tertentu setelah melahirkan anak ini disebut
puerperium yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan parous melahirkan. Jadi, puerperium berati masa setelah melahirkan bayi (Dewi, dkk, 2011: 1).

2.1.2 Tahapan Masa Nifas
a. Puerperium Dini (immediate puerperium) Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. Waktu 0-24 jam post partum.
b. Puerperium Intermedial (early puerperium) Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu. Waktu 1-7 hari post partum.
c. Remote Puerperium (later puerperium)
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat, sempurna terutama bila selama hamil dan waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat bisa berminggu-minggu, bulan atau tahun. Waktunya yaitu 1-6 minggu post partum. (Anggraini, 2010: 3)

Lanjut sini lebih lengkap 

Februari 08, 2018

Proposal Skripsi Kebidanan

Sobat semua ketemu lagi nih ma admin...lama tak posting tentang skripsi, kali ini ane mau ngebagiiin contoh prposal skripsi kebidanan yang berjudul "ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PATOLOGIS PADA Ny .... UMUR ...TAHUN P...A... DENGAN HIPERTENS". Sengaja yang ane tulis disini hanya bab pendahuluan aja, kalo sobat pingin tahu lebih lengkap tentang judul proposal skripsi, sobat bisa kunjungi halaman dibawah ini


Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil kira-kira 6 minggu (Marmi, 2014). Pada ibu nifas penjelasan mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas sangat penting dan perlu, oleh karena masih banyak ibu atau wanita yang sedang hamil atau pada masa nifas belum mengetahui tentang tanda-tanda bahaya masa nifas, baik yang diakibatkan masuknya kuman ke dalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri) (Wulandari, 2010: 122). Penyakit darah tinggi atau hipertensi(hypertension) adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tekanan darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa(sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. Nilai normal tekanan darah seseorang secara umum adalah 120/80 mmHg (Pudiastuti,  2013: 13). 

Asuhan masa nifas sangat diperlukan dalam periode ini karena masa nifas merupakan masa kritis untuk ibu dan bayi. Dengan demikian di perlukan suatu upaya untuk mencegah terjadinya suatu masalah tanda bahaya masa nifas. Selain itu juga di perlukan peran dari tenaga kesehatan dengan memberikan konseling selama kehamilan, setelah persalinan, dan melakukan kunjungan rumah yaitu kunjungan nifas 1 dan kunjungan nifas 2 sesuai standar pelayanan. Dari upaya tersebut diharapkan dapat mengetahui dan mengenal secara dini tanda-tanda bahaya masa nifas, sehingga bila ada kelainan dan kompikasi dapat segera terdeteksi (Wulandari, 2010 : 5) 

Menurut WHO 2013 mencatat bahwa setiap tahunnya angka kematian ibu (AKI) lebih 300/100.000 kelahiran hidup hingga 400/100.000 kelahiran hidup. Perempuan yang meninggal akibat perdarahan 28%, eklamsia 24%, abortus lama 15%, infeksi 11%, abortus 5% . Pada tahun 2012 WHO memperkirakan ada 65% dari ibu nifas yang mengalami komplikasi dan 15% diantaranya Nifas dengan Hipertensi. Di kawasan ASEAN Indonesia mempunyai Angka Kematian Ibu (AKI) yang paling tinggi. Berdasarkan hasil SDKI (2005) AKI dilaporkan mencapai 265 tiap 100 ribu kelahiran hidup. Faktor yang menjadi penyebab angka kematian ibu tetap tinggi di antaranya adalah perdarahan, infeksi, hipertensi kehamilan, serta abortus (Anonim, 2014).

Kematian dan kesakitan akibat komplikasi kehamilan, persalinan, nifas saat ini masih sangat tinggi. Tahun 2007 setiap 1 menit di dunia seorang ibu meninggal dunia. Dengan demikian dalam 1 tahun ada sekitar 600.000 orang ibu meninggal sia-sia saat melahirkan. Sedangkan di Indonesia dalam 1 tahun terdapat 3,9/1.000 ibu meninggal karena komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas (Bagus, 2011: 7).Memperhatikan angka kematian ibu dan perinatal di Indonesia dapat diperkirakan bahwa sekitar 60% kematian ibu akibat komplikasi kehamilan terjadi selama persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Tingginya kematian ibu dan bayi di negara-negara berkembang disebabkan oleh karena kurang sempurnanya pengawasan antenatal dan natal, penderita sering datang terlambat sehingga terlambat memperoleh pengobatan yang tepat dan cepat. Jumlah tenaga medis dan non paramedis juga diperbanyak sehingga pelayanan kesehatan umumnya dan pelayanan kebidanan khususnya mutu dan jangkauannya, secara bertahap ditingkatkan (Mochtar, 2011: 147).  

Angka kematian ibu di Indonesia pada tahun 2012 didapatkan 45% dar100.000 kasus ibu nifas dengan komplikasi dan 10% diantaranya Nifas dengan Hipertensi tanpa disertai pre eklamsi. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, angka nasional untuk Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 228/100.000 kelahiran hidup (Anonim, 2014).
AKI di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 yaitu 116,34/100.000 kelahiran hidup, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI tahun 2011 yang sebesar 116,01/100.000 kelahiran hidup (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2012). Di Jawa Tengah sekitar 32% dari 100.000 ibu nifas dengan komplikasi dan 5-7% diantaranya nifas dengan Hipertensi (Depkes RI, 2012). Menurut data di RSUD Prof. Dr. Soekarjo Purwokerto didapatkan kasus ibu nifas dengan Hipertensi pada tahun 2013 sebanyak 13 kasus ibu nifas dengan Hipertensi, dan pada tahun 2014 sebanyak 8 kasus ibu nifas dengan Hipertensi. Berdasarkan uraian di atas maka Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada Ny. L umur 25 tahun P1A0 Dengan Hipertensi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto”.


Komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini

Februari 02, 2018

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PATOLOGI PADA NY. S UMUR 27 TAHUN G2P1A0UK 11 MINGGU 3 HARI DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT II

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PATOLOGI PADA NY. S UMUR 27 TAHUN G2P1A0UK 11 MINGGU 3 HARI DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT II DI RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO TAHUN 2016

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Pengkajian
Asuhan kebidanan ibu hamil patologi pada ny. S umur 27 tahun G2P1A0 UK 11 minggu 3 hari dengan hiperemesis gravidarum tingkat II. Pengkajian yang dilakukan pada 16 Juli 2016, pukul 12.30
WIB, no registrasi 659198, di Ruang Edelwais RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo, diperoleh data sebagai berikut : Identitas pasien bernama Ny. S umur 27 tahun, agama Islam, suku Jawa/bangsa Indonesia, pendidikan terakhir SMP, pekerjaan ibu rumah tangga, alamat Pandak Kidul RT 01/ RW 01 Pucungwetan Sukoharjo Wonosobo. Identitas penanggung jawab bernama Tn. L umur 30 tahun,
agama Islam, suku Jawa/bangsa Indonesia, pendidikan terakhir SMP, pekerjaan Wiraswasta, alamat Pandak Kidul RT 01/ RW 01 Pucungwetan Sukoharjo Wonosobo, hubungan dengan pasien sebagai
suami. Ny. S datang pada tanggal 16 Juni 2016 jam 12.00 WIB, di RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo. Mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dan mengeluh pusing, lemas, mual dan muntah terus menerus lebih dari 10x sejak 3 hari yang lalu tanggal 14 Juli 2016.


Riwayat kesehatan dahulu ibu tidak pernah menderita penyakit berat seperti penyakit jantung, hipertensi, asma, diabetes mellitus, riwayat kembar dan sebagainya. Riwayat kesehatan sekarang ibu tidak sedang menderita penyakit seperti jantung, asma, diabetes mellitus, namun ibu mengalami mual muntah yang berlebihan sejak 3 hari yang lalu pada tanggal 14 Juli 2016. Dari keluarga tidak ada riwayat penyakit seperti jantung, hipertensi, asma, diabetes mellitus, HIV/AIDS, penyakit jiwa, Malaria dan sebagainya. Ny. S mengatakan ini perkawinan pertama, menikah sejak umur 19 tahun dengan suami umur 21 tahun, lama perkawinan 9 tahun, status pernikahan syah secara hukum dan agama. Ny. S mengatakan pertama kali haid pada umur 12 tahun, siklus haid 28 hari, lama haid 7 hari, darah berbau anyir, banyaknya darah ganti pembalut 2-3 kali pada hari ke 1-4 haid dan flek flek pada harike 5-7 haid, konsistensi cair agak bergumpal, berwarna merah segar, kecoklatan, tidak merasa sakit/nyeri sebelum atau saat haid, tidak pernah keputihan. Ny. S mengatakan melahirkan anak pertamanya pada tahun 2008 dengan usia kehamilan 39 minggu 2 hari, melahirkan secara spontan, ditangani oleh bidan, di Puskesmas, tidak ada penyulit yang menyertai persalinannya, jenis kelamin anak pertama laki-laki, panjang badan lahir 52 cm, berat badan lahir 3400 gram. Pada masa nifas tidak ada masalah yang menyertainya dan anak pertamanya diberi ASI ekslusif. Keadaan anak sekarang hidup dan berusia 9 tahun. Kehamilan ini merupakan kehamilan yang kedua, sudah pernah
melahirkan dan belum pernah keguguran. Haid pertama haid terakhir 27 Mei 2016, hari perkiraan lahir 03 Februari 2017, usia kehamilan 11 minggu 3 hari. Selama hamil sudah empat kali memeriksakan dirinya ke puskesmas, satu kali pada kehamilan trimester pertama usia kehamilan 2 minggu 4 hari dengan keluhan terlambat menstruasi, test laborat PP Test positif, diberi terapi asam folat 1x1, vit.C 2x1dan pendidikan kesehatan tentang fisiologikehamilan. Kedua kalinya pada usia kehamilan 4 minggu, dengan keluhan mual, pusing dan lemas hanya melakukan pemeriksaan tekanan darah 100/90 MmHg. Ketiga kalinya pada usia kehamilan 6 minggu 2 hari, dengan keluhan nafsu makan menurun, mual dan muntah terus menerus. Terapi asam folat 1x1, Vit C 2x1, B komplek 1x1, diberikan pendidikan kesehatan tentang nutrisi pada ibu hamil dan cara mengatasi mual dan muntah. Periksa ke empat dengan keluhan tidak nafsu makan, pusing, lemas, muntah semakin parah, kesadaran menurun, Rujuk RSU, kemudian dicek laborat dengan hasil urin reduksi dan albumin (-) , HB 10 mg/dl, planotes (+)kemudian dianjuarkan untuk rawat inap di RSU. Imunisasi TT 4 tahun 2008 yaitu pada saat menikah di Puskesmas Sukoharjo. Gerakan janin pertama kali belum dirasakan oleh ibu. Ibu tidak pernah minum obat obatan dan jamu jamuan selama hamil kecuali yang diberi oleh bidan, puskesmas dan rumah sakit.


Tidak ada kebiasaan ibu yang berpengaruh negatif terhadap kehamilannya yaitu ibu tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak menggunakan obat obatan terlarang, namun suami dari Ny. S adalah perokok aktif. Ibu tidak pernah mengikuti senam hamil. Ny. S pernah menggunakan alat kontrasepsi yaitu suntik, mulai tahun 2008, selama menggunakan alat kontrasepsi tersebut ibu dan suami tidak pernah ada keluhan, ibu berhenti menggunakan alat kontrasepsi suntik pada tahun 2015 dengan alasan ingin punya anak  lagi, ibu dan suami mengatakan ingin mempunyai anak dua saja, suami ibu menyetujui untuk menggunakan alat kontrasepsi suntik Sebelum dan selama hamil mengalami sedikit perubahan pola  makan, sebelum hamil makan sehari 2 -3 kali, porsi 1 piring, jenis nasi, lauk dan sayur, buah 2-3 kali seminggu, tidak ada pantangan makan, selama hamil pada tanggal 14-16 juli 2016 makan sehari 1-2 kali, porsi ½ piring kecil, namun ibu setelah makan selalu memuntahkan makanannya, tapi tidak semua di muntahkan, jenis nasi, lauk dan sayur,buah 2-4 kali seminggu, tidak ada pantangan makan, sebelum hamil minum 6-7 gelas perhari, jenis air putih dan teh, selama hamil minum 3- 4 gelas perhari, jenis air putih, teh dan susu ibu hamil kadang-kadang,sebelum hamil BAK 3-5 kali dalam sehari, dengan warna kuning jernihdan konsistensi cair, selama hamil 3-4 kali perhari dengan warna kuning keruh dan konsistensi cair. Sebelum hamil dan selama hamil tidak mengalami perubahan BAB 1 kali perhari dengan warna kekuningan dan konsistensi lembek. Aktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, seperti : memasak, menyapu, mencuci pakaian, mencuci piring, dan lain-lain. Hanya saja selama hamil, Ibu mengatakan kegiatannya hanya berbaring dan istirahat karena jika beraktifitas seperti biasa ibu merasa lemas dan cepat lelah. Sebelum hamil tidur siang 1 jam perhari dan tidur malam 7-8 jam perhari. Selama hamil tidur siang 2 jam perhari dan tidur malam 2 jam perhari masalah karena ibu mengalami mual dan muntah terus-menerus. personal hygiene ibu sebelum hamil dan selama hamil tidak mengalami perubahan sepertmandi 2 kali perhari, keramas 3 kali seminggu, gosok gigi 2 kali perhari dan masalah selama hamil adalah ibu merasa mual dan muntah setelah gosok gigi, ganti pakaian 2 kali perhari.

Sebelum hamil melakukan hubungan suami istri 1-2 kali seminggu dan tidak ada keluhan khusus. Selama hamil tidak melakukan hubungan seksual. Kehamilan ini direncanakan, namun ibu merasa cemas terhadap kehamilannya karena merasa pusing, lemas, mual dan muntah terus menerus, hubungan ibu dengan keluarga dan orang lain baik tercermin dari sikap ibu yang ramah terhadap pasien lain saat di Rumah Sakit, tidak ada kepercayaan / adat yang berhubungan dengan kehamilan, pengambil keputusan dalam keluarga adalah ibu dan suami, ibu menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaannya, lingkungan yang berpengaruh baik yaitu ibu tinggal dengan suami dan anaknya, tidak memiliki hewan peliharaan dan cara memasak dicuci dulu baru di potong. Rencana persalinan di Puskesmas jarak rumah dengan tempat bersalin ± 1 km. Penghasilan perbulan cukup untuk memenuhi  kebutuhan pokok dan biaya bersalin. Pengetahuan ibu tentang pendidikan kesehatan ibu belum tahu nutrisi ibu hamil dan cara mengatasi mual muntah yang berlebihan. Dari data Obyektif atau hasil pemeriksaan ibu diperoleh sebagai berikut : keadaan umum ibu lemah, kesadaran composmetis, tekanan darah 80/70 mmHg dan mengalami penurunan karna pada pemeriksaan sebelunya pada umur kehamilan 4 minggu tekanan darahnya 100/90 mmHg, nadi 84 x/menit, suhu 36ÂșC, pernafasan 24 x/menit, tinggi badan 157 cm, berat badan sekarang 52 kg, berat badan sebelum hamil 55 kg, penurunan berat badan 3 kg, LILA 24cm. Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh hasil: kepala mesochepal, kulit kepala bersih, rambut tidak rontok dan berketombe. Muka simetris, tidak oedem. Mata simetris, konjungtiva putih, sclera sedikit ikterik, kelopak mata cekung. Hidung simetris, tidak ada polip, tidak ada secret. Mulut simetris, bibir pucat, tidak ada stomatitis, gigi ada caries, mulut berbau aseton, lidah sedikit kotor.

Telinga simetris, tidakada pegeluaran serumen, tidak ada tanda tanda infeksi. Leher tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan limfe, tidak ada bendungan vena jugularis. Dada simetris, tidak ada retraksi dinding dada. Ketiak tidak ada pembesaran kelenjar limfe. Payudara simetris, tidak ada benjolan abnormal, tidak ada massa. Abdomen tidak ada luka bekas operasi, tidak ada massa. Genetalia eksterna tidak oedem, tidak ada varices, terpasang Dower Cateter dari IGD, volume dalam urine bag 3 cc, tidak ada pengeluaran abnormal. Anus tidak ada hemoroid. Pinggang tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa. Punggung punggung lordosis, tidak ada massa. Ekstremitas kanan atassimetris, tidak ada oedem, jari jari tangan lengkap, terpasang infus RL 500 cc. Ekstremitas kiri atassimetris, tidak ada oedem, jari-jari tangan lengkap. Ekstremitas kanan bawah simetris tidak oedem, jari-jari kaki lengkap. Ekstremitaskiri bawah simetris, tidak oedem, jari-jari kaki lengkap. Pemeriksaan Obstetrik, pada inspeksi diperoleh data muka tidak ada cloasma gravidarum, pucat. Payudara simetris, ada hiperpigmentasi areola, putting susu menonjol, tidak ada tumor. Abdomen ada pembesaran sesuai usia kehamilan 11 minggu 3 hari, tidak ada luka bekas operasi, tidak ada striae gravidarum, terdapat linea nigra, tidak ada tumor, ada nyeri tekan pada epigastrium. Genetalia pengeluaran pervaginam tidak ada. Pada palpasi abdomen didapatkan pada leopold I konsistensi uterus teraba tegang. Leopold II belum teraba. Leopold III belum teraba. Leopold IV belum teraba. Pada perkusi diperoleh reflek patella (+) kanan dan kiri. Pada auskultasi diperoleh DJJ belum terkaji, punctum maximum belum terkaji. Pemeriksaan dalam tidak dilakukan. Pemeriksan penunjang yaitu pemeriksaan laboraturium HB 10 gr/dl, Golongan darah B, Urine albumin dan reduksi (-), planotes (-). Pada pemeriksaan USG terlihat gestasi intra uteri, gestasi 11 minggu 6 hari, tidak dilakukan pemeriksaan panggul.

4.1.2 Interpretasi Data Dasar
Data – data yang telah dikumpulkan pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2016 pukul 12.30 WIB maka penulis merumuskan diagnosa kebidanan : Ny. S umur 27 tahun G2 P1 A0, hamil 11 minggu 3 hari,
dengan Hiperemesis gravidarum tingkat II. Data Subjektif : ibu mengatakan bernama Ny. S umur 27 tahun, ibu mengatakan ini kehamilan yang kedua dan belum pernah keguguran, haid pertama haid
terakhir : 27mei 2016 ibu mengatakan sering muntah, mual, pusing dan lemas. Data Objektif : Keadaan umum lemah, kesadaran composmetis, tanda-tanda vital : TD 80/70 mmHg, dan mengalami penurunan karna pada pemeriksaan sebelunya pada umur kehamilan 4 minggu tekanan darahnya 100/90 mmHg. nadi 84x / menit, suhu 360C, respirasi 24x / menit, Mata :Konjungtiva pucat, seklera sedikit ikterik. Mulut : lidah kering, kotor, dan mulut berbau aseton. Kulit : Turgor kulit jelek, pucat dan kering. Ekstremitas kana atas : terpasang infuse RL dan Dextrose 5% dengan tetesan 28tete/menit. Berat badan sebelum hamil : 55 kg, Berat badan sekarang : 52kg. Palpasi diperoleh : leopold I konsistensi uterus terba tegang. Leopold II belum teraba.Leopold III belum teraba. Leopold IV belum teraba. Auskultasi: DJJ belum terkaji, punctum maximum belum terkaji. Inspeksi: wajah terlihat pucat dan bibir terlihat kering, Masalah yang timbul yaitu ibu mengatakan merasa cemas
dengan keadaan dirinya dan kehamilannya, kebutuhan untuk mengatasi masalah tersebut adalah memberi informasi pada ibu tentang keadaanya dan tindakan yang akan dilakukan dan memberikan penjelasan pendidikan kesehatan tentang mual muntah dan memberikan support mental untuk mengurangi kecemasan ibu memberi dukungan pada ibu, serta menganjurkan ibu untuk banyak istirahat,
.
4.1.3 Diagnosa Potensial Dan Antisipasi
Diagnosa potensial yang bisa terjadi Hiperemesis Gravidarum Tingkat III.

4.1.4 Tindakan Segera
Dalam menangani kemungkinan-kemungkinan potensial masalah yangakan terjadi, dilakukan kolaborasi dengan dokter SpOG.

4.1.5 Perencanaan
Perencanaan dilakukan tanggal 16 Juli 2016 jam 12.40 WIB. Dari data yang diperoleh, berdasarkan diagnosa kebidanan Ny. S umur 27 tahun G2P1A0 umur kehamilan 11 minggu 3 hari, dengan hiperemesis gravidarum tingkat II serta masalah yang timbul maka rencana tindakan pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2016 jam 12.40 WIB yaitu :
1. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan.
2. Lakukan kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pengambilan tindakan.
3. Berikan pendidikan kesehatan tentang hiperemesis gravidarum
4. Lakukan perawatan di ruang pemantauan khusus sesuai prosedur.
5. Lakukan inform konsen tentang tindakan yangakan dilakukan.
6. Berikan terapi sesuai advis dokter.
7. Anjurkan ibu untuk banyak istirahat dan makan, minum sedikit tapi sering.
8. Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk diet
9. Lakukan pengawasan dan pemantauan keadaan ibu.

4.1.6 Pelaksanaan
Pada tanggal 16 Juli 2016 jam 12.50 WIB dari perencanaan yang telah dibuat dilakukan implementasi/pelaksanaan yaitu:
1. Memberitahu ibu dan kluarga hasil pemeriksaan, keadaan keadaan ibu mengalami hiperemesis gravidarum, dengan gejala yaitu :segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan, Haus berat (dehidrasi), Subfebris, Nadi cepat dan lebih dari 100-140 kali per menit, Tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmhg, Apatis, Kulit pucat, Lidah kotor, Kadang ikterus, Mulut berbau aseton, Bilirubin dalam urin, Berat badan cepat menurun, dan gejala ini akan hilang pada umur kehamilan 6-10 minggu. Keadaan umum : lemah, kesadaran : composmetis Tekanan darah 80/70mmHg, nadi 84
kali/menit, suhu 36oC, pernafasan 24 kali/menit, pemeriksaan fisik dalam batas normal, pemeriksaan Hb 10 gr%, memberikan support mental kepada ibu untuk tidak terlalu cemas terhadap kehamilannya. Karena kondisi janin baik dan kondisi ibu dengan hiperemesis gravidarum masih bisa di atasi.
2. Melakukan kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pengambilan  tindakan.
a. Melanjutkan tindakan yang sesuai yaitu: Memberikan cairan melalui intravena RL dan dextrose 5% di gunakan untuk mengganti cairan yang hilang dan elektrolit yang kluar melalui muntha karena RL mengandung natrium laktat 3,10 gram, natrium klorida 6,00 gram, kalium klorida 0.30 gram, kalsium klorida 0,20 gram dan air, sedangkan dextrose 5% mengandung glukosa 50m, dengan tetesan 28tetes/menit (Ai Yeyeh Rukiyah, dkk, 2010 : 122- 128) .
3. Memberikan pendidikan kesehatan hiperemesis gravidarum pada ibu hamil. Pengertian hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah berlebihan lebih dari 10 kali dalam 24 jam sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari.
Keadaan ini terjadi sejak awal kehamilan sampai usia kehamilan 6- 10 minggu. Penyebab hyperemesis belum dapat diketahui dengan  jelas anamu ada beberapa faktor presdisposisi diantaranya adalah faktor adaptasi dan hormonal, faktor psikologis, faktor alergi. Penggolongan hiperemesis, dibagi menjadi 3 tingkat yaitu : tingkat I, Tingkat II, Tingkat III. Tanda dan gejala hyperemesis muntah, penurunan berat badan, salivasi yang berlebihan, tanda-tanda dehidrasi, takikardi. Pada pemeriksaan laboratorium dapat dijumpai : hiponatremi (kekurangan natrium dalam darah), hipokalimi, peningkatan hematokrit (proporsi volume darah yang terdiri dari sel darah merah), hipertiroid (kelebihan hormone tiroid). Pengaruh hiperemesis dalam kehamilan bagi ibu diantaranya gagal ginjal, sakit kuning, kekurangan gizi, konfusi/bingung, rupture esophagu, penurunan berat badan, ketosis dan ketonuria, dehidrasi yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (hipokalemia), gangguan keseimbangan asam basa, kerusakan retina, saraf dan renal. Bagi janin dari ibu dengan hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan : bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), abortus, prematur (lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu), IUGR (Intra Uteri Growth Retardation) (Manuaba, 2010 : 75)
4. Melakukan perawatan di ruang pemantauan khusus sesuai prosedur, yaitu :
a. Menganjurkan ibu tirah baring.
b. Memantau cairan yang keluar.
c. Memberikan nutrisi pada Ny. S dengan diet rendah lemak
dengan berkolaborasi instalasi gizi.
5. Melakukan inform konsen tentang tindakan yangakan dilakukan.
6. Memberikan terapi sesuai advis dokter, yaitu :
a. Memberikan injeksi ondasetron 4 mg 1 ampuk IV/ 8 jam
b. Memberikan injeksi ranitidine 2 mg 1 ampul IV / 8 jam
c. Memberikan injeksi neurobion 1 ampul IV / 12 jam
d. Memberi antasida syirup 3x1 sehari.
(Nita Norma, dkk 2013 : 50)
7. Menganjurkan ibu untuk makan, minum sedikit tapi sering dan
istirahat.
8. Melakukan pemberian makanan diberikan secara berangsur dan dimulai dengan memberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi, rendah lemak, bersantan, berbau tajam, dan makanan berserat. Minuman tidak diberikan bersamaan dengan makanan
9. Melakukan pengawasan dan pemantauan keadaan ibu secara berkala meliputi keadaan umum, tanda tanda vital, memantau frekuensi muntah, urinalisasi.

4.1.7 Evaluasi
Evaluasi dilakukan tanggal 16 Juli 2016 jam 13.00 WIB. Pada langkah evaluasi, diperoleh data bahwa ibu mengetahui hasil pemeriksaan dan tidak cemas lagi. Ibu sudah paham tentang pendidikan
kesehatan tentang hiperemesis gravidarum pada ibu hamil. Sudah berkolaborasi dengan dokter SpOG untuk pengambilan tindakan. Ibu telah diberikan injeksi sesuai advise dokter dan ibu bersedia untukmeminum obat yang diberikan. Ibu bersedia untuk memakan makanan sedikit tapi sering dan banyak beristirahat, sudah dilakukan kolaborasi dengan ahli gizi, sudah dilakukan pemantauan keadaan ibu secara berkala meliputi keadaan umum, tanda tanda vital, reflek patella, memantau frekuensi muntah, urinalisasi.

4.2 Data Perkembangan
4.2.1 Data perkembangan1
Data perkembangan diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 16 Juli 2016, jam 12.30 WIB, bertempat di ruang edelwais dimana pasien dirawat diperoleh data sebagai berikut :
1. Data subyektif bahwa :
a. Ibu mengatakan bernama Ny S umur 27 tahun
b. Ibu mengatakan hamil yang kedua, sudah pernah melahirkan dan belum pernah keguguran, haid pertama haid terahi tanggal 22 Mei 2016.
c. Ibu mengatakan masih mual dan muntah setiap kali makan dan minum selalu dimuntahkan.
d. Ibu mengatakan masih lemas
e. Ibu mengatakan masih nyeri uluhati dan sering pusing
f. Ibu mengatakan tidak nafsu makan.
g. Ibu mengakatan masih susah tidur karena masih mual dan muntah.
2. Data obyektif, keadaan umum lemah, kesadaran apatis, konjungtiva pucat, tekanan darah 80/70 mmHg, nadi 84 x/menit, suhu 36ÂșC, RR 24 x/meni, Hb 10 gr%, Mata : Konjungtiva pucat, seklera sedikit ikterik. Kulit : Turgor kulit jelek, pucat dan kering. Mulut : lidah kering dan kotor. Berat badan sebelum hamil : 55 kg, Berat badan sekarang : 52kg. Ekstremitas kana atas : terpasang infuse RL dan Dextrose 5% dengan tetesan 28tete/menit.
3. Assesment, “Ny. S umur 27 tahun G2P1A0 umur kehamilan 11 minggu 3 hari, dengan hiperemesis gravidarum tingkat II.
4. Planning, beritahu ibu hasil pemeriksaan pada ibu dan menjelaskan bahwa saat ini ibu sedang mengalami hiperemesis gravidarum, menjelaskan pada ibu bahwa hal itu biasa terjadi pada kehamilan trimester pertama, memberitahu ibu bahwa usia kehamilannya 11 minggu 3 hari, menjelaskan pada ibu cara untuk mengatasi mual dan muntah yang berlebihan, menganjurkan ibu untuk istirahat
cukup, memberi dukungan kepada ibu dan kluarga agar tidak cemas dengan keadaanya. Dilakukan implementasi sesuai dengan planning yaitu dengan memberi tahu ibu hasil pemeriksaan baik, keadaan ibu dan janin baik, tekanan darah 80/70mmHg, nadi 84 kali/menit, suhu 36 oc, pernafasan 24 kali/menit. Ibu saat ini mengalami hiperemesis gravidarum yaitu keadaan dimana ibu mengalami mual muntah secara berlebihan segala yang dimakan dikeluarkan, hal ini wajar
terjadi pada ibu hamil pada trimester pertama. Usia kehamilan ibu saat ini adalah 11 minggu 3 hari. Cara mengatasi mual dan muntah yaitu makan sedikit tapi sering, hindari makanan yang berlemak dan bersantan, hindari makanan yang berbau tajam, sebaiknya selingi makanan berkuah dan makanan kering. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, memberikan dukungan kepada ibu dan kluarga
agar tidak cemas dengan keadaan ibu. Hasil implementasi evaluasi, ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan dan merasa senang karena mengetahui kondisi ibu dan janin normal. Ibu telah mengetahui apayang sedang dialami ibu saat ini. Ibu sudah tahu umurkehamilannya saat ini. Ibu mengrti cara mengatsi mual dan muntah dan bersedia untuk istirahat cukup. Ibu dan kluarga sudah tidak cemas lagi (Manuaba, 2010 : 75).

4.2.2 Data Perkembangan ke-2
Data perkembangan diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 17 Juli 2016, jam 10.00 WIB, bertempat di ruang Edelwais RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo diperoleh hasil :
1. Data subyektif yaitu ibu mengatakan masih mual dan muntah, muntah 4 kali sejak tadi pagi hingga saat pengkajian, ibu masih merasa nyeri ulu hati tetapi rasa nyerinya sudah mulai berkurang, ibu mengatakan nafsu makannya masih tidak enak, keadaannya masih lemas, aktivitas ibu masih berbaring saja, ibu mengatakan sudah BAB 1x tadi pagi menggunakan pispot.
2. Data obyektif, keadaan umum mulai membaik, kesadaran composmentis, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 365 ÂșC, RR 22 x/menit, Mata : Konjungtiva pucat, seklera sediki
putih. Kulit : Turgor kulit baik, Mulut : lidah basah dan sedikit kotor, Berat badan sebelum hamil : 55 kg, Berat badan sekarang : 52kg, Ekstremitas kana atas : terpasang infuse RL dan Dextrose 5% botol ke 4 dengan tetesan 28tete/menit, Palpasi :belum teraba tinggi fundus uteri dan bagian-bagian janin, ibu muntah 1 kali selama pengkajian, Hb tidak dilakukan pemeriksaan .
3. Assesment, “Ny. S umur 27 tahun G2P1A0 umur kehamilan 11 minggu 4 hari, dengan hiperemesis gravidarum tingkat II, keadaan ibu mulai membaik”.
4. Planning, beritahu ibu hasil pemeriksaan pada ibu, mengobservasi keadaan umum ibu, mengobservasi frekuensi muntah ibu, mengobservasi pola makan ibu, mengobservasi pemberian cairan infuse dan pemberiaan obat. Dilakukan implementasi sesuai dengan planning yaitu dengan memberi tahu ibu hasil pemeriksaan baik, keadaan ibu dan janin baik, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 80 kali/menit, suhu 36oC, pernafasan 22 kali/menit. Bagian-bagian janin dan tinggi fundus uteri belum teraba. Keadaan umum ibu mulai membaik. Ibu mengalami muntah 5 kali dari pagi sampai dengan saat pengkajian. Ibu sudah mulai makan nasi sedikit-sedikit diselingi buah-buahan, kue kering, dan the hangat. Pada tangan kanan ibu terpasang infuse dengan dextrose 5% botol ke 6 dengan tetesan 28 tetes/menit, pemberian obat secara injeksi berupa ondansetron 4 mg 1 ampul IV / 8 jam, injeksi ranitidine 2 mg 1 ampul IV / 8 jam, neorobion1 ampul/ 12 jam, dan obat secara peroral yaitu antasida syrup 3x1 sehari (Ai Yeyeh Rukiyah, dkk, 2010:122-128).

4.2.3 Data Perkembangan 3
Data perkembangan diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 18 Juli 2016, jam 10.00 WIB, bertempat di ruang edelwai RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo diperoleh hasil :
1. Data subyektif yaitu ibu mengatakan muntah 2 kali dari pagi samapi dengan saat pengkajian, ibu mengatakan nafsumakannya mulai baik, ibu mengatakan sudah tidak lemas lagi, ibu mengatakan sudah melakukan aktivitas seperti duduk berdiri dan berjalan mkekamar mandi karna ibu sudah tidak menggunakaan kater lagi, dan ibu mengatakan sudah ingin pulang.
2. Data obyektif, keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 76 x/menit, suhu  368ÂșC, RR 22 x/menit, Mata : Konjungtiva merah muda. Kulit  : Turgor kulit baik. Mulut : lidah bersih. Berat badan sebelum hamil : 55 kg, Berat badan sekarang : 52kg. Ekstremitas kana atas :  Sudah tidak terpasang Infus.
3. Assesment, “Ny. S umur 27 tahun G2P1A0 umur kehamilan 11 minggu 5 hari, dengan hiperemesis gravidarum”.
4. Planning, beritahu ibu hasil pemeriksaan pada ibu, memantau keadaan umum ibu, memantau frekuensi muntah, memantau  pemberian cairan infuse dan penatalaksanaan pemberian obat, ibu sudah diijinkan pulang oleh dokter, menganjurkan pada ibu untuk control satu minggu lagi guna untuk mengetahui perkembangan ibu selanjutnya. Dilakukan implementasi sesuai dengan planning yaitu dengan memberi tahu ibu hasil pemeriksaan baik, keadaan ibu dan janin baik, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 75 kali/menit, suhu 368oC, pernafasan 22 kali/menit. Bagian janin dan TFU belumteraba. Keadaan umum ibu baik. Ibu muntah 2 kali dan masih mual. Pemberian cairan infuse sudah dihentikan dan pemberian obatsecara peroral masih berlanjut. Karena ibu sudah diijinkan pulang oleh dokter. Ibu bersedia untuk datang 1 minggu lagi agar mengetahui perkembangan keadaannya.

4.2.4 Data Perkembangan 4 Kunjungan Rumah
Data perkembangan diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 20 Juli 2016, jam 11.00 WIB, bertempat di rumah pasien Desa Pucungwetan Rt 01/Rw 01 Kec. Sukoharjo Kab.Wonosobo diperoleh :
1. Data subyektif yaitu ibu mengatakan sudah tidak muntah lagi, namun ibu masih merasa sedikit mual, ibu sudah tidak merasa lema dan nyeri ulu hati, ibu sudah melakukan aktivitas seperti biasa, nafsumakan ibu sudah baik.
2. Data obyektif, keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tekanan darah 110/90 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu
37ÂșC, RR 22 x/menit, Mata : Konjungtiva merah muda. Kulit : Turgor kulit baik. Mulut : lidah bersih. Berat badan sebelum hamil : 55 kg, Berat badan sekarang : 52kg. Ekstremitas kana atas : tidak odema, tidak fraktur, kuku tidak pucat. Palpasi :Bagian janin  dan TFU belum teraba. Pemeriksaan Hb :tidak dilakukan.
3. Assesment, “Ny. S umur 27 tahun G2P1A0 umur kehamilan 12minggu, dengan hiperemesis gravidarum tingkat II”.
4. Planning, beritahu ibu hasil pemeriksaan pada ibu, anjurkan ib tetap meminum obat yang telah diberikan pada saat pulang dari rumah sakit, mengobservasi muntah ibu, mengobservasi pemberian obat, menganjurkan pada ibu untuk makan-makanan yang bergizi, menganjurkan pada ibu untuk rajin memeriksakan kehamilannya dan segera memeriksakan dirinya apabila ada keluhan. Dilakukanimplementasi sesuai dengan planning yaitu dengan memberi tahu ibu hasil pemeriksaan baik, keadaan ibu dan janin baik, tekanan darah 110/90mmHg, nadi 80 kali/menit, suhu 37oC, pernafasan 22 kali/menit. Bagian janin dan TFU belum teraba. Menganjurkan ibu tetap meminum obat yang telah diberikan pada saat pulang dari rumah sakit yaitu Ondansetron 3x1, Neurodex 3x1, Antasida syrup 3x1, vitamin B komplek 3x1, vitamin C 3x1 untuk mencegah mual muntah. Ibu sudah tidak muntah dan mual lagi. Obat yang diberikan dari rumah sakit Ondansetron 3x1, Neurodex 3x1, Antasid ayrup 3x1, Vitamin B komplek 3x1, Vitamin C 3x1. Menganjurkan ibuuntuk tetap memakan makanan yang bergizi terutama sayur dan buah-buahan yang mengandung serat. Menganjurkan ibu untuk rajin memeriksakan kehamilannya dan apabila ada keluhan segera memeriksakannya ketenga kesehatan terdekat. Hasil implementasi evaluasi, ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan dan merasa senang karena mengetahui kondisi ibu dan janin normal. Ibu mengerti dan bersedia untuk tetap minum obat yang diberikan oleh rumah sakit. Ibu merasa senang karna sudah tidak mual dan muntah lagi. Ibumengerti dan bersedia memakan makanan yang bergizi dan mengandung serat, ibu bersedia untukrajin memeriksakan kehamilannya dan apabila ada keluhan akan segera memeriksakannya.


nah contoh diatas adalah contoh dari pembuatan skripsi kebidana pada bab ii untuk lebih lengkapnya dan lebih detailnya kawan-kawan bisa kunjungi link download dibawah, semoga artikel ini bisa membantu

contoh skripsi ini bisa anda comot 
jangan lupa komen dan ngintil blog ini untuk kemajuan 


ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH PADA

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH PADA NY. M DI WISMA UTARI RSJ. PROF. DR. SOEROJO MAGELANG

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Kebutuhan Persepsi Diri
1. Definisi Konsep diri
Konsep diri adalah keseluruhan ide, pikiran, kepercayaan dan
keyakinan yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi
individu tersebut dalam berhubungan dengan orang lain. Termasuk disini
adalah persepsi individu terhadap sifat dan kemampuannya, interaksi
dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan
pengalaman dan obyek, tujuan serta keinginannya. Konsep diri adalah
pengetahuan individu tentang dirinya sendiri, merupakan gambaran
tentang diri dan gabungan kompleks dari perasaan, sikap, dan persepsi
baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Konsep diri dipelajari
melalui kontak sosial dengan pengalaman berhubungan dengan orang
lain. Pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana
individu mengartikan pandangan orang lain yentang dirinya (Rusdi &
Dermawan, 2013).
2. Komponen konsep diri (Rusdi & Dermawan, 2013):
a. Citra Tubuh (Body Image)
Citra tubuh adalah persepsi seseorang tentang tubuhnya, baik
secara internal maupun eksternal. Citra tubuh dipengaruhi oleh
pandangan seseorang tentang sifat-sifat fisik dan kemampuan yang
10
dimiliki dan oleh oleh persepsi orang lain. Terhadap dirinya. Citra
tubuh dipengaruhi juga oleh perkembangan kognitif dan
pertumbuhan fisik. Ukuran, bentuk, massa, struktur, fungsi dan arti
penting tubuh beserta bagian-bagiannya bersifat dinamis dan sangat
mungkin untuk berubah. Citra tubuh mungkin berubah seiring
perubahan yang terjadi pada anatomi tubuh dan kepribadian
seseorang. Perkembangan dan perubahan normal yaang terjadi
seiring usia akan mempengaruhi gambaran diri seseorang. Citra
tubuh saat usia sekolah akan berbeda dengan citra tubuh saaat usia
tua.
b. Ideal Diri (Self – Ideal)
Ideal diri adalah persepsi seseorang tentang bagaimana dan
harus berperilaku sesuai dengan suatu standar tertentu. Standar dapat
behubungan dengan tipe orang yang diinginkannya atau sejumlah
aspirasi, tujuan atau nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan
mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial,
dimana seseorang berusaha untuk mewujudkannya. Pembentukan
ideal diri dimulai sejak masa kanak-kanak dan sangat dipengaruhi
oleh orang-orang disekitarnya yang memberikan keuntungan dan
harapan-harapan tertentu. Individu mampu berfungsi dan
mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri,
sehingga dia akan menyerupai apa yang diinginkan. Ideal diri
hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi
11
dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat
dicapai.
c. Harga diri (Self-Estem)
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang ingin
dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal
diri. Frekuensi pencapaian tujuan akn menghasilkan harga diri yang
rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu selalu sukses maaka
cenderung harga diri tinggi. Jika individu sering gagal maka
cenderung harga diri rendah. Harga diri yang rendah dapat berupa
mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah
tersinggung, pesimis, gangguan berhubungan (isolasi/menarik diri)
dan merusak diri. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang
lain. Aspek utama adalah dicinta dan menerima penghargaaan dari
orang lain. Harga diri akan rendah jika kehilangan cinta dan
seseorang kehilangan penghargaan diri orang lain.
d. Penampilan Peran (Role-Performance)
Penampilan peran adalah seperangkat perilaku yang
diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi
indivudu di berbagai kelompok sosial yang berbeda. Perilaku
tersebut diharapkan dapat diterima oleh keluarga, masyarakat dan
budaya. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih dan dipilih
individu. Setiap orang mempunyai peran lebih dari satu. Untuk dapat
berfungsi efektif sesuai dengan perannya, seseorang harus tahu
12
perilaku dan nilai-nilai yang diharapkan, harus berkeinginan untuk
menyesuaikan diri dan harus mampu mencukupi peran yang
dikehendaki. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi
diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran
karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan, posisi
yang tidak mungkin dilaksanakan.
e. Identitas diri (Self-Identity)
Identitas diri adalah kesadaran akan diri sendiri yang
bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari
semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan
memandang dirinya berbeda dengan orang lain, unik dan tidak ada
duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan
dan penguasaan diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan
menerima dirinya. Salah satu dasar persepsi seseorang terhadap
kecukupan peran yang diterimanya adalah ego yang menyertai peran,
berkembang sesuai dengan harga diri. Harga diri yang tinggi adalah
hasil dari pemenuhan kebutuhan peran sejalan dengan ideal diri
seseorang.
13
B. Konsep Kebutuhan Persepsi Diri: Harga Diri Rendah
1. Definisi Harga Diri
Harga diri rendah adalah perasan seseorang bahwa dirinya tidak
diterima lingkungan dan gambaran-gambaran negatif tentang dirinya.
Harga diri rendah menolak dirinya sendiri, merasa tidak berharga dan
tidak dapat bertanggung jawab atas kehidupan sendiri. Individu gagal
menyesuaikan tingkah laku dan cita-cita.
Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang lain.
Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang,
perlakuan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang
buruk. Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai
rendah. Harga diri rendah dipengaruhi oleh pengalaman individu daalam
perkembangan fungsi ego, dimana anak-anak yang dapat beradaptasi
terhadap lingkungan internal eksternal biasanya memiliki perasaan aman
terhadap lingkungan dan menunjukkan harga diri rendah yang positif.
Sedangkan individu yang memiliki harga diri rendah cenderung untuk
mempersepsikan lingkungannya negatif dan sangat mengancam.
Mungkin pernah mengalami depresi atau gangguan dalam fungsi egonya
(Yosep & Sutini, 2014).
2. Proses Terjadinya Masalah (Rusdi & Dermawan, 2013):
a. Faktor Predisposisi:
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang
tua, harapan orang tua yang tidak realistik
14
2) Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu peran yang
sesuai dengan jenis kelamin, peran dalam pekerjaan dan peran
yang sesuai dengan kebudayaan
3) Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang tua yang
tidak percaya pada anak, tekanan teman sebaya dan kultur sosial
yang berubah.
b. Faktor Presipitasi
1) Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau
faktor dari luar individu (Internal or eksternal sources), yang
dibagi 5 kategori:
a) Ketegangan peran, adalah stres yang berhubungan dengan
frustasi yang dialami individu dalam peran atau posisi yang
diharapkan.
b) Konflik peran: ketidaksesuaian peran antar yang dijalankan
dengan yang diinginkan
c) Peran yang tidak jelas: kurangnya pengetahuan individu
tentang peran yang dilakukannya
d) Peran berlebihan: kurang sumber yang adekuat untuk
menampilkan seperangkat peran yang kompleks
e) Perkembangan transisi, yaitu perubahan norma yang
berkaitan dengan nilai untuk menyesuaikan diri
15
2) Situasi transisi peran, adalah bertambah atau berkurangnya orang
penting dalam kehidupan individu melalui kelahiran atau
kematian orang yang berarti
3) Transisi peran sehat-sakit, yaitu peran yang diakibatkaan oleh
keadaan sehat atau keadaan sakit. Transisi ini dapat disebabkan:
a) Kehilangan bagian tubuh
b) Perubahan ukuran bentuk, penampilan atau fungsi tubuh
c) Perubahan fisik yang berkaitan dengan pertumbuhan dan
perkembangan
d) Prosedur pengobatan dan perawatan
4) Ancaman fisik seperti pemakaian oksigen, kelelahan, ketidak
seimbangan bio-kimia, gangguan penggunaan obat dan alkohol.
3. Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah (Prabowo, 2014):
a. Data subjektif: mengkritik diri sendiri atau orang lain, perasaan tidak
mampu, pandangan hidup yang pesimis, perasaan lemah dan takut,
penolakan terhadap kemampuan diri sendiri, pengurangan diri/
mengejek diri sendiri, hidup yang berpolarisasi, ketidakmampuaan
menentukantujuan,mengungkapkankegagalanpribadi,merasionalisasi
penolakan.
b. Data objektif: produktivitas menurun, perilaku destruktif pada diri
sendiri dan orang lain penyalahgunaan zat, menarik diri dari
hubungan sosial, ekspresi wajah malu dan rasa bersalah,
16
menunjukkan tanda depresi (sukar tidur dan sukar makan), tampak
mudah tersinggung (mudah marah).
4. Rentang Respon Harga Diri Rendah (Rusdi&Dermawan, 2013):
Respon Respon
Adaptif Maladaptif
Aktualisasi Konsep diri Harga diri Keracunan Depersonalisasi
diri positif rendah identitas
Gamabr 2.1 Rentang respon konsep diri
(Rusdi&Dermawan, 2013)
Keterangan:
a. Aktualisasi diri: pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan
latar belakang pengalaman sukses.
b. Konsep diri positif: apabila individu mempunyai pengalamn yang
positif dalam perwujudan dirinya.
c. Harga diri rendah: perasaan negatif terhadap diri sendiri, termasuk
kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berdaya,
pesimis.
d. Keracunan identitas: kegagalan individu untuk mengintegrasikan
berbagai identifikasi masa anak-anak kedalam kepribadian
psikososial yang harmonis.
17
e. Depersonalisasi: perasaan tidak realistik dalam kegiatan diri
sendiri, kesulitan membedakan diri sendiri, merasa tidak nyata dan
asing baginya.
5. Pohon Masalah
Isolasi Sosial: Menarik diri Akibat
Harga Diri Rendah Core Problem
Koping individu tidak efektif Cause
Gambar 2.1 Pohon Masalah
(Prabowo, 2014)
C. Konsep Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah
1. Fokus Pengkajian
Data yang perlu dikaji pada klien harga diri rendah menurut
Riyadi & Purwanto (2009), antara lain:
a. Faktor Predisposisi:
1) Faktor yang mempengaruhi peran.
Kegagalan yang berulang, klien merasa kurang tanggung
jawab, ketergantungan pada orang lain.
18
2) Faktor yang mempengaruhi harga diri rendah
Klien merasa kurang mampu dan kurang mandiri, mudah
tersinggung.
3) Faktor yang mempengaruhi identitas diri.
Ketidakpercayaan kepada orang lain, curiga, kurang percaya
diri, ragu dalam mengambil keputusan.
b. Faktor Presipitasi
Masalah faktor presipitasiRiyadi& Purwanto (2009),
mengemukakan bahwa pernah dan tidaknya mengalami gangguan
kejiwaan bahkan pernah mengalami pengalaman yang tidak
menyenangkan bagi klien. Perpisahan, perceraian, kematian,
perubahan struktur sosial terjadi trauma yang tiba-tiba misalnya
tindakan operasi, kecelakaan, putus sekolah, korban pemerkosaan,
penganiayaan dan perlakuan tidak menyenangkan dari orang yang
ada disekitarnya.
c. Pengkajian psikososial.
Hal-hal yang perlu dikaji menurut Kusumawati & Hartono
(2011), pada gangguan jiwa yaitu:
1) Konsep diri
Konsep diri merupakan satu kesatuan dari
kepercayaan, pemahaman dan keyakinan terhadap dirinya yang
mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Pada klien
dengan gangguan harga diri rendah mengalami konsep diri
meliputi:
19
a) Citra tubuh: menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh
yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang
telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan
perubahan tubuh, persepsi negatif tentang tubuh.Preokupasi
dengan bagian tubuh yang hilang,mengungkapkan
keputusasaan, mengungkapkan ketakutan.
b) Identitas: ketidakpastian memandang diri, sukar menetapkan
keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan.
c) Peran: berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan
penyakit, proses menua, putus sekolah, Pemutusan Hubungan
Kerja (PHK).
d) Ideal diri: mengungkapkankeputusasaankarena penyakitnya,
mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.
e) Harga diri: perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah
terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan
martabat, mencederai diri, dan kurang percaya diri. Klien
mempunyai gangguan atau hambatan dalam melakukan
hubungan sosial dengan orang lain terdekat dalam
kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk
beribadah (Spiritual).
20
f) Hubungan sosial
Adanya hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
dan jarang berperan serta dalam kegiatan masyarakat.
2) Status mental
Status mental menurut Keliat (2011):
a) Penampilan: Penggunaan pakaian tidak sesuai, rambut acakacakan,
kulit kotor, gigi kuning.
b) Pembicaraan: tidak mampu memulai pembicaraan, bila
berbicara topik yang dibicarakan tidak jelas atau kadang
menolak diajak bicara.
c) Aktifitas motorik: lesu, tegang, dan kurang bergairah dalam
beraktifitas, kadang gelisah dan mondar-mandir.
d) Alam perasaan: sedih, putus asa, khawatir dan sering
melamun.
e) Afek: afek datar dan tumpul ketika distimulus yang
menyenangkan ataupun menyedihkan.
f) Interaksi selama wawancara: kontak mata kurang dan
kadang-kadang menolak untuk berbicara dengan orang lain,
tidak kooperatif dan curiga.
g) Persepsi: Umumnya mengalami gangguan persepsi, klien
biasanya mendengar suara-suara yang mengancam.
h) Isi pikir: malu apabila bertemu dengan orang lain,pesimisme.
i) Tingkat kesadaran: bingung.
21
j) Tingkat konsentrasi dan kalkulasi:mudah beralih, tidakmampu
berkonsentrasi penurunan kemampuan berhitung
k) Daya tilik diri: mengingkari penyakitnya dan menyalahkan
hal-hal diluar dirinya.
3) Mekanisme koping.
Mekanisme kopingmenurut Riyadi & Purwanto (2009)
adalah segala usaha yang diarahkan untuk menanggulangi stress.
Usaha ini dapat berorientasi pada tugas dan meliputi usaha
pemecahan masalah langsung:
a) Pertahanan jangka pendek:
(1)Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari
kritis, misalnya: kerja keras, nonton, dll.
(2)Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti
sementara, misalnya: ikut kegiatan social, politik, agama,
dll.
(3)Aktivitas yang sementara dapat menguatkan perasaan diri,
misalnya: kompetisi pencapaian akademik.
(4)Aktivitas yang mewakili upaya jarak pendek untuk
membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam
kehidupan, misalnya: penyalahgunaan obat.
22
b) Pertahanan jangka panjang:
(1) Penutupan identitas
Adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang yang
penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan,
aspirasi, potensi diri individu.
(2) Identitas negatif
Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh
nilai-nilai harapan masyarakat.
(3) Mekanisme pertahanan ego:
(a) Fantasi
(b) Dissosiasi
(c) Isolasi
(d) Proyeksi
(e) Displacement
(f) Marah atau amuk pada diri sendiri.
c) Sumber koping
Sumber koping adalah suatu evaluasi terhadap pilihan
koping dan strategi seseorang:
(1) Individu
(2) Keluarga
(3) Teman bermain
(4) Masyarakat.
23
2. Masalah keperawatan gangguan konsep diri menurut Stuart (2007):
a. Core problem: harga diri rendah:
1) Definisi: evaluasi diri atau perasaan negatif terhadap diri sendiri
atau kecakapan.
2) Tanda dan gejala:
a) Tergantung pada pendapat orang lain
b) Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi
peristiwa.
c) Secara berlebihan mencari penguatan
d) Seringkali kurang berhasil dalam peristiwa hidup
e) Enggan mencoba hal baru
f) Perilaku bimbang
g) Kontak mata kurang
h) Perilaku tidak asertif
i) Seringkali mencari penegasan
j) Menolak umpan balik positif terhadap diri sendiri
k) Ekspresi rasa bersalah
3) Faktor yang berhubungan:
a) Ketidak efektifan adaptasi terhadap kehilangan
b) Kurang kasih sayang
c) Kurang persetujuan
d) Kurang pengobatan dalam kelompok
e) Persepsi ketidaksesuaian norma budaya dan diri persepsi
ketidak sesuaian antara norma, sepritual dan diri.
24
f) Persepsi kurang rasa memiliki
g) Persepsi kurang dihargai oleh orang lain
h) Gangguan psikiatrik
i) Kegagalan berulang
j) Penguatan negatif berulang
k) Peristiwa traumatik
l) Situasi traumatik.
3. Intervensi Harga Diri Rendah menurut Azizah (2011):
a) Tujuan Umum
Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap
b) Tujuan Khusus (TUK):
1) TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling percaya:
(a) Kriteria hasil:
(1) Klien dapat mengungkapkan perasaannya
(2) Ekspresi wajah bersahabat
(3) Ada kontak mata
(4) Menunjukkan rasa senang
(5) Mau berjabat tangan
(6) Mau menjawab salam
(7) Klien tidak mau duduk berdampingan
(8) Klien mengutarakan masalah yang dihadapi
(b) Intervensi:
(1) Bina hubungan saling percaya (sapa klien dengan
ramah, baik verbal maupun nonverbal, perkenalkan
25
diri dengan sopan, tanya nama lengkap pasien dan
nama panggilan yang disukai klien, jelaskan tujuan
pertemuan, jujur dan menepati janji, tunjukkan sikap
empati dan menerima klien apa adanya, beri perhatian
pada klien)
(2) Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
tentang penyakit yang dideritanya
(3) Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
(4) Katakan pada klien bahwa ia adalah seorang yang
berharga dan bertanggungjawab serta mampu
menolong dirinya sendiri.
2) TUK 2: Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki:
a) Kriteria hasil
Klien mampu mempertahankan aspek yang positif.
b) Intervensi:
(1) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki klien dan beri pujian/reinforcement atas
kemampuan yang mengungkapkan perasaanya
(2) Saat bertemu klien, hindarkan memberi penilaian
negatif, utamakan memberi pujian yang realistis.
26
3) TUK 3: Klien dapat menilai kemampuan yang dapat
digunakan
a) Kriteria hasil:
(1) Kebutuhan klien terpenuhi
(2) Klien dapat melakukan aktifitas terarah
b) Intervensi:
(1) Diskusikan kemampuan klien yang masih dapat
digunakan selama sakit
(2) Diskusikan juga kemampuan yang dapat dilanjutkan
penggunaan di rumah sakit dan di rumah nanti
4) TUK 4: Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
(a) Kriteria hasil:
(1) Klien mampu beraktifitas sesuai kemampuan
(2) Klien mengikuti terapi aktifitas kelompok.
(b) Intervensi:
(1) Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat
dilakukan setiap hari sesuai kemampuan: kegiatan
mandiri, kegiatan dengan bantuan minimal, kegiatan
dengan bantuan total.
(2) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi
klien
27
(3) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh
klien lakukan (sering klien takut melakukannya).
5) TUK 5: klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit
dan kemampuannya:
a) Kriteria hasil
Klien mampu beraktifitas sesuai kemampuan
b) Intervensi:
(1) Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang
direncanakan
(2) Beri pujian atas keberhasilan klien
(3) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah
6) TUK 6: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang
ada:
a) Kriteria hasil:
(1) Klien mampu melakukan apa yang diajarkan
(2) Klien mau memberikan dukungan
b) Intervensi:
(1) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang
cara merawat klien harga diri rendah
(2) Bantu keluarga memberi dukungan selama klien
dirawat
(3) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah


contoh skripsi ini bisa anda comot 
jangan lupa komen dan ngintil blog ini untuk kemajuan