Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label belajar Tajwid untuk pemula. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar Tajwid untuk pemula. Tampilkan semua postingan

November 26, 2021


ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA NY. F P2 A1 H0 POST SECTIO CAESAREA ATAS INDIKASI CPD (CHEPALO PELVIC DISPROPORTION) 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Persalinan
    1. Pengertian
        Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta dan membran dari dalam rahim melalui jalan lahir (Bobak, 2004). Menurut Sumarak dkk (2008), persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan.
    2. Faktor esensial persalinan
        Ada lima faktor yang mempengaruhi proses persalinan dan kelahiran menurut Bobak (2004). Faktor ini mudah untuk diingat sebagai lima P: passenger (penumpang, yaitu janin dan plasenta), passageway (jalan lahir), powers (kekuatan), posisi ibu dan psychologic respons (respons psikologis).
a) Penumpang (passenger) 
        Janin bergerak di sepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin. Karena plasenta juga melewati jalan lahir, maka plasenta juga disebut sebagai penumpang yang menyertai janin. Namun, plasenta jarang menghambat proses persalinan pada kelahiran normal.
b) Jalan lahir (passageway)
        Jalan lahir terdiri dari panggul, yakni bagian tulang yang padat, dasar panggul, vagina, dan intoitus (lubang luar vagina). Meskipun jaringan lunak, lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut menunjang keluarnya bayi.
c) Kekuatan (powers)
        Saat persalinan ibu akan melakukan kontraksi involunter dan volunter secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan plasenta dari uterus. Kontraksi uterus involunter, yang disebut kekuatan primer, menandai dimulainya persalinan. Apabila serviks berdilatasi, usaha volunter dimulai untuk mendorong, yang disebut kekuatan sekunder, yang memperbesar kekuatan involunter.
d) Posisi ibu
        Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan. Posisi tegak memberikan sejumlah keuntungan. Mengubah posisi membuat rasa letih hilang, membuat rasa nyaman dan memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan, duduk dan jogkok.
e) Respons psikologis (psychologic respons)
       Respon psikologis ibu akan sangat berpengaruh terhadap berjalanya proses persalinan, baik respons cemas, rasa takut maupun respons bahagia. Respons ibu juga akan sangat terlihat pada saat sebelum persalinan dan setelah persalinan. Terutama respons terhadap penerimaan anggota baru.
3. Tahap persalinan 
    Menurut Bobak (2004), ada empat tahap persalinan yaitu: 
    a) Tahap pertama persalinan
Dimulai sejak terjadi kontraksi uterus sampai dilatasi serviks lengkap. Tahap pertama persalinan biasanya berlangsung lebih lama dari pada tahap kedua dan ketiga. Dilatasi lengkap dapat berlangsung kurang dari satu jam pada sebagian kehamilan
multipara. Pada kehamilan pertama, dilatasi serviks jarang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Tahap pertama dibagi dalam tiga fase, fase laten, fase aktif dan fase transisi. Selama fase laten akanbanyak kemajuan dari pada penurunan janin. Selama fase aktif dan fase transisi, dilatasi serviks dan penurunan bagian presentasi akan berlangsung lebih cepat.   
   b) Tahap kedua   
Tahap kedua persalinan berlangsung sejak dilatasi serviks lengkap sampai janin lahir. 
   c) Tahap ketiga  
Dimulai sejak jani lahir samai plasenta lahir. Plasenta biasanya lepas setelah tiga atau empat kontraksi uterus yang kuat. Kelahiran plasenta setelah 45 sampai 60 menit masih dianggap normal.
             d) Tahap keempat
Tahap keempat berlangsung kira-kira dua jam setelah plasenta lahir. Periode ini merupakan masa pemulihan yang terjadi segera jika homeostasis berlangsung dengan baik. Masa ini merupakan periode yang penting untuk memantau adanya komplikasi, misalnya perdarahan abnormal.
4. Adaptasi terhadap persalinan  
    Menurut Bobak (2004), adaptasi persalinan ada dua yaitu: 
    a) Adaptasi janin
1) Denyut jantung janin
Pemantauan denyut jantung janin (DJJ) memberi informasi yang dapat dipercaya dan dapat digunakan untuk memprediksi keadaan janin yang berkaitan dengan oksigenasi. DJJ rata-rata pada aterm ialah 140 denyut permenit, batas normalnya ialah 110-160 denyut permenit.
2) Sirkulasi janin
Sirkulasi janin dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah posisi ibu, kontraksi uterus, tekanan darah dan aliran darah tali pusat.
3) Pernapasan dan perilaku janin 
Perubahan-perubahan tertentu menstimulasi kemoreseptor pada aorta dan badan karotid guna mempersiapkan janin untuk memulai pernapasan setelah lahir. Gerakan janin masih sama seperti pada masa hamil, tetapi menurun setelah ketuban pecah.  
   b) Adaptasi ibu (fisiologis)
1) Perubahan kardiovaskuler.
Pada setiap kontraksi, 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke dalam sistem vaskuler ibu. Hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10% sampai 15% pada tahap pertama persalinan dan sekitar 30% sampai 50% pada tahap kedua persalinan.
2) Perubahan pernapasan 
Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan pemakaian oksigen terlihat dari peningkatan frekuensi pernapasan. Pada tahap kedua persalian, jika ibu tidak diberi obat-obatan, maka ibu akan mengkonsumsi oksigen dua kali lipat.
3) Perubahan pada ginjal.
Pada trimester kedua, apabila kandung kemih terisi dapat teraba di atas simfisis pubis. Selama persalinan, ibu dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan akibat berbagai alasan.
4) Perubahan integumen.
Jelas terlihat pada daya distensibilitas daerah introitus vagina (muara vagina). Tingkat distensibilitas ini berbeda-beda pada setiap individu.
5) Perubahan muskuloskeletal.
Sistem muskuloskeletal mengalami stres selama persalinan. Diaforesis, keletihan, proteinuria (+1) dan kemungkinan peningkatan suhu menyertai peningkatan aktivitas otot yang menyolok.
6) Perubahan neurologi.
Sistem neurologi menunjukan bahwa timbul stres dan rasa tidak nyaman selama persalinan. Perubahan sensoris terjadi sejak masuk ke setiap tahap pertama sampai tahap-tahap berikutnya.
7) Perubahan pencernanaan.
Persalinan banyak mempengaruhi sistem cerna, bibir dan mulut dapat menjadi kering akibat bernapas melalui mulut, dehidrasi dan sebagai respon terhadap persalinan. Sering juga terjadi mual dan muntah setelah bersalin.
8) Perubahan endokrin.
Sistem endokrin aktif selama persalinan. Awitan persalinan dapat diakibatkan oleh penurunan kadar progesteron, peningkatan kadar estrogen, prostaglandin, dan oksitosin. Metabolisme meningkat dan kadar gula darah dapat menurun akibat proses persalinan.
B. Sectio Caesarea
     1. Pengertian
Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan membuka dinding rahim melalui sayatan pada dinding perut. Penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa, melahirkan secara Sectio Caesarea akan memerlukan waktu penyembuhan luka rahim
lebih lama dari pada persalinan normal (Mirza, 2008). Menurut Jitowiyono dan Kristianasari (2010), Sectio Caesarea merupakan suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. Sedangkan menurut Mitayani (2009), Sectio Caesarea yaitu suatu persalinan buatan dimana janin yang dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan saraf rahim dalam keadaan utuh serta berat diatas 500 gram.
     2. Etiologi
Menurut Mitayani (2009), penyebab Sectio Caesarea terjadi karena dua faktor:
a) Indikasi pada ibu
    1) Panggul sempit absolut.
    2) Tumor-tumor jalan lahir.
    3) Stenosis vagina.
    4) Plasenta previa.
    5) Disproporsi sefalopelvis.
    6) Ruptur uterus.
    7) Diabetes (kadang-kadang).
    8) Riwayat obstetri yang buruk.
    9) Riwayat Sectio Caesarea klasik.
   10) Infeksi hipervirus tipe II. 
b) Indikasi janin
    1) Letak janin yang tidak stabil bisa dikoreksi.
    2) Presentasi bokong (kadang-kadang).
    3) Penyakit atau kelainan berat pada janin seperti eritoblastosis atau retardasi pertumbuhan               yang nyata.
    4) Gawat janin 
 c) Salah satu indikasi Sectio Caesarea karena Sefalopevis  
       Disprorortion. CPD atau Chepalopelvic Disproportion yaitu ketika kepala janin tidak sesuai dengan ukuran panggul ibu atau kondisi persalinan dimana ukuran panggul ibu terlalu kecil atau kelainan bentuk sehingga kepala bayi tidak dapat melewatinya (Masriroh,2013). CPD adalah disproporsi antara ukuran janin dan ukuran pelvis, yakni ukuran pelvis tertentu tidak besar untuk mengakomodasi keluarnya janin tertentu melalui pelvis sampai terjadi kelahiran pervaginam (Helen, Jan M. Kriebs, Carolyn L Gegor, 2007). Kemudian dari pengertian lain CPD merupakan ketidak mampuan janin untuk melewati panggul (Oxorn, Wiliam R. Fol, 2010). CPD dapat diklasifikasikan sebagai CPD absolut dan CPD relatif. CPD absolut yaitu jika terdapat perbedaan antara ukuran tulang panggul dan kepala janin yang menghalangi kelahiran pervaginam bahkan dalam kondisi optimal. CPD absolut merupakan kontraindikasi terhadap kelahiran pervaginam. Sedangkan CPD relatif jika malposisi janin, asiklitisme atau ekstensi kepala janin menghambat kelahiran (Norwitz Erol, John Schorge, 2007). 
3. Manifestasi Klinis
Menurut Marina M (2011), manifestasi klinis pada klien dengan post sectio caesarea antara lain:
a) Kehilangan darah selama prosedur pembedahan 600-800 ml.
b) Terpasang kateter : urine jernih dan pucat.
c) Abdomen lunak dan tidak ada distensi.
d) Bising usus tidak ada.
e) Ketidakmampuan untuk menghadapi situasi baru.
f) Balutan abdomen tampak sedikit noda.
g) Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan, berlebihan dan banyak.
4. Patofisiologi
        Dari etiologi Sectio Caesarea salah satunya adalah CPD, pada klien dengan CPD kemungkinan akan mengambil keputusan untuk melakukan Sectio Caesarea. Sectio Caesarea merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, placenta previa dll, untuk ibu. Sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan Sectio Caesarea ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif berupa kurang pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Nyeri adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman dan insisi juga dapat mengakibatkan kerusakan integritas jaringan. Sebelum dilakukan operasi klien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat regional dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin maupun ibu anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan upnoe yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar. Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat sekret yang berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup. Anestesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas usus. Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan terjadi proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian diserap untuk metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari mortilitas yang menurun maka peristaltik juga menurun. Makanan yang ada di lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk juga menurun. Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang pipa endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat pada perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi (Mekar, 2013).

Lengkapnya dimari brow 















Februari 02, 2018

PENGARUH PEMBELAJARAN ILMU TAJWID TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SISWA KELAS VII




PENGARUH PEMBELAJARAN ILMU TAJWID TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SISWA KELAS VII SMPN 1 SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2015/2016


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ilmu tajwid adalah ilmu tentang kaidah dan tata cara membaca Al-
Qur’an dengan baik dan benar. Sebagai disiplin ilmu, tajwid mempunyai
kaidah-kaidah tertentu yang harus dipedomani dalam pengucapan huruf-huruf
dan makhrajnya di samping harus diperhatikan pula hubungan setiap huruf
dengan antara sebelum dan sesudahnya pada tata cara pengucapannya. Oleh
karena itu ilmu tajwid tidak dapat diperoleh hanya sekedar dipelajari saja,
namun harus melalui latihan dan praktik menirukan orang yang baik
bacaannya.
Islam mengharuskan umatnya untuk selalu memelihara Al-Qur’an
dengan jalan sering membacanya dan tidak bermalas-malasan untuk selalu
mengkaji dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu,
perlu adanya penanaman kecintaan dan ketertarikan terhadap Al-Qur’an
kepada siswa. Agar siswa dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar
maka perlu belajar ilmu tajwid.
Banyak siswa yang belum memahami hakikat membaca Al-Qur’an
sehingga mereka beranggapan bahwa belajar ilmu tajwid merupakan hal sulit.
Lebih-lebih dalam belajar ilmu tajwid di sekolah kurang didukung sarana dan
prasarana yang memadai, sehingga sulit untuk menerangkan dan
memperagakan tajwid kepada siswa.
Belajar ilmu tajwid bukanlah hal yang mudah, langsung hanya sekejap
dapat menguasainya, perlu latihan yang serius, berkesinambungan dan perlu
pula ada bimbingan dan arahan dari yang telah menguasai. Karena
mempelajari ilmu tajwid bertujuan untuk memelihara bacaan Al-Qur’an dari
kesalahan.
Menurut As-Suyuti, selain beribadah dengan jalan memahami dan
menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an, dapat pula dilakukan dengan
membaca Al-Qur’an secara baik, benar lafal maupun hurufnya sesuai yang
.
2
diajarkan para imam-imam qira’at yang bersambung kepada Nabi saw.
Membaca yang benar adalah membaca secara tartil, sehingga jelas huruf dan
makhrojnya, dan mentadabburinya sesuai yang diajarkan Nabi saw. Menurut
Az-Zarkasyi, tartil yang sempurna (baik) ditunjukkan dengan tegas lafallafalnya,
jelas huruf-hurufnya dan tidak mendengungkan suatu huruf di dalam
huruf lain.1
Namun, pada era modern seperti sekarang membaca Al-Qur’an
kurang diminati oleh siswa karena dipengaruhi oleh perubahan masyarakat
dan kebudayaan yang terjadi, perlu adanya gerakan kembali dalam
membiasakan membaca Al-Qur’an lebih-lebih secara tartil. Kesulitan mencari
guru tajwid juga menjadi salah satu faktor pembelajaran ilmu tajwid
terhambat, sehingga banyak siswa yang tidak paham apa itu tajwid.
Oleh karena itu, membaca Al-Qur’an tidak dapat dilakukan dengan
sembarangan saja perlu kehati-hatian agar tidak menjadi amal ibadah yang
salah, yang dapat mendatangkan kemurkaan dari Allah swt. Maka untuk
menjaga hal tersebut setiap orang yang hendak membaca Al-Qur’an perlu
menguasai ilmu tajwid. Dengan penguasaan ilmu tajwid, membaca Al-Qur’an
akan menjadi benar dan akan mendatangkan pahala dari Allah swt.
Melihat gambaran ilmu tajwid di atas, dapat diambil kesimpulan
bahwa anak adabnya diajarkan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar
sejak dini. Bila tidak, maka akan sulit membenahinya bila terlanjur salah
membaca hingga dewasa. Agar bacaan tertata baik dan benar, anak harus
mempraktikkan kaidah-kaidah tajwid. Tajwid adalah memperbaiki bacaan Al-
Qur’an dalam bentuk mengeluarkan huruf-huruf dari tempatnya dengan
memberikan sifat-sifat yang dimilikinya, baik yang asli maupun yang datang
kemudian. Dalam ilmu tajwid juga diajarkan bagaimana cara melafalkan
huruf yang berdiri sendiri, huruf yang dirangkaikan dengan huruf yang lain,
melatih lidah mengeluarkan huruf dari makhrojnya, belajar mengucapkan
bunyi yang panjang dan pendek, cara menghilangkan bunyi huruf dengan
1 Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, Keistimewaan-Keistimewaan Al-Qur’an,
(Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2001), hal. 146.
.
3
menggabungkan kepada huruf sesudahnya (idgham), berat atau ringan,
berdesis atau tidak, mempelajari tanda-tanda berhenti dalam bacaan dan
sebagainya.
Atas dasar uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran ilmu tajwid terhadap kemampuan
membaca Al-Qur’an siswa kelas VII SMP N 1 Sukoharjo. Yang penelitian ini
selanjutnya diberi judul “PENGARUH PEMBELAJARN ILMU TAJWID
TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SISWA
KELAS VII SMPN 1 SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2015/2016.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis
mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut :
1. Pembelajaran Ilmu Tajwid yang kurang dipahami siswa.
2. Masih banyak siswa yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan
tartil.
3. Kemampuan siswa yang berbeda-beda dalam membaca Al-Qur’an.
4. Minimnya kemauan anak dalam membaca Al-Qur’an.
5. Sulitnya mencari guru tajwid.
6. Sarana dan prasarana yang kurang memadahi dalam pembelajaran tajwid.
7. Siswa beranggapan sulit mempelajari tajwid.
C. Penegasan Istilah
Untuk memperjelas uraian judul di atas, maka perlu diberikan
pemahaman agar segala asumsi dan pemahaman tidak terjadi kekeliruan.
Adapun istilah-istilah yang perlu diperjelas sebagai berikut :
1. Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu yang ikut
membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.2
2 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka, 2001), hal. 849.4
2. Pembelajaran Ilmu Tajwid
a. Pembelajaran adalah suatu proses yang dinamis, berkembang secara
terus-menerus sesuai dengan pengalaman siswa.3
b. Ilmu menurut bahasa berasal dari bahasa Arab (ilm), bahasa latin
(science) yang berarti tahu atau mengetahui atau memahami.
Sedangkan menurut istilah, ilmu adalah pengetahuan yang sistematis
atau ilmiah.4
c. Secara bahasa tajwid berasal dari kata جَوَّد - یُجَوِّد - تَجْوِیْدًا yang
mengandung arti tahsin, artinya memperindah atau memperbaiki.
Sedangkan menurut istilah tajwid adalah ilmu yang mempelajari cara
pengucapan huruf-huruf Al-Qur’an yang meliputi sifat, makhraj
(tempat keluarnya huruf) dan ahkamul huruf (ketentuan bunyi
huruf).5
Jadi, pembelajaran ilmu tajwid adalah suatu proses yang dinamis,
berkembang secara terus menerus untuk mengetahui cara pengucapan
huruf-huruf Al-Qur’an yang meliputi sifat, makhraj (tempat keluarnya
huruf) dan ahkamul huruf (ketentuan bunyi huruf).
3. Kemampuan Membaca Al-Qur’an
Kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan.6 Membaca Al-
Qur’an adalah melihat serta memahami isi dari kitab suci yang
diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, sebagai salah satu
rahmat yang tak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul
wahyu Illahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi
siapapun yang mempercayai serta mengamalkannya.
3 H. Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
(Jakarta : Kencana Prenada Media Grup, 2011), hal. 195.
4Nurul Ishmi, “Pengertian Ilmu,” http://ismi-ismi.com/pengertian-ilmu.html (1 Desember
2015).
5Masruri Yahya dan M. Ashim Yahya, 5 Jam Jago Tajwid, (Jakarta : Qultum Media,
2010), hal. 2.
6Departemen Pendidikan Nasional, op. cit., hal. 707.
.
5
4. SMP N 1 Sukoharjo
SMP N 1 Sukoharjo merupakan lokasi tempat dimana penulis melakukan
penelitian. adapun alamatnya yaitu di Jl. Raya Sukoharjo Desa Sukoharjo
Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo. Dengan demikian maksud
dari “Pengaruh Pembelajaran Ilmu Tajwid terhadap Kemampuan
Membaca Al-Qur’an Siswa Kelas VII SMP N 1 Sukoharjo” adalah sejauh
manakah pengaruh pembeajaran ilmu tajwid terhadap kemampuan
membaca Al-Qur’an pada siswa kelas VII SMP N 1 Sukoharjo.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pembelajaran ilmu tajwid pada siswa kelas VII SMP N 1
Sukoharjo?
2. Bagaimana kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa kelas VII SMP
N 1 Sukoharjo?
3. Adakah pengaruh pembelajaran ilmu tajwid terhadap kemampuan
membaca Al-Qur’an pada siswa kelas VII di SMP N 1 Sukoharjo?
E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pembelajaran ilmu tajwid pada siswa kelas VII SMP N
1 Sukoharjo.
2. Untuk mengetahui kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa kelas VII
SMP N 1 Sukoharjo.
3. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pembelajaran ilmu tajwid
terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa kelas VII SMP N 1
Sukoharjo.
.
6
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, yaitu :
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai kajian keilmuan untuk dijadikan bahan masukan dan
pertimbangan tentang pengaruh pembelajaran ilmu tajwid terhadap
kemampuan membaca Al-Qur’an siswa kelas VII SMP N 1 Sukoharjo
b. Sebagai salah satu bahan pertimbangan bagi para peneliti berikutnya
tentang penelitian yang sejenis.
c. Sebagai kajian keilmuan untuk dijadikan bahan masukan dalam
pembelajaran ilmu tajwid dalam meningkatkan kemampuan membaca
Al-Qur’an.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Sebagai bahan masukan bagi semua guru pada umumnya dan guru PAI
pada khususnya di SMP N 1 Sukoharjo tentang pentingnya
pembelajaran ilmu tajwid, sehingga dapat membantu siswa dalam
membaca Al-Qur’an
b. Bagi Peserta didik
Memberikan pengetahuan dan wawasan akan pentingnya belajar ilmu
tajwid dengan sungguh-sungguh dan sering berlatih membaca Al-
Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid yang bertujuan selain ibadah juga
dapat memperlancar membaca Al-Qur’an.
c. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan penulis dengan melakukan
penelitian ini.
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk mengetahui gambaran umum tentang kerangka, isi, cakupan
yang akan dibahas dalam penulisan skripsi, maka memaparkan gambaran atau
kerangka sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut:
.
7
1. Bagian muka
Bagian ini berisikan halaman judul, halaman nota pembimbing,
halaman pengesahan, pernyataan keaslian skripsi, halaman motto, halaman
persembahan, pedoman transliterasi, abstrak, kata pengantar, daftar isi,
daftar lampiran.
2. Bagian tengah
Bagian tengah merupakan bagian isi atau inti dari skripsi yang
terbagi dalam bab-bab sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan yang memuat latar belakang masalah,
perumusan masalah, identifikasi masalah, penegasan
istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II : Landasan teori, dalam hal ini memuat tentang kajian
pustaka, kajian teori, kerangka berfikir, dan hipotesis.
BAB III : Metode penelitian yang berisi: jenis penelitian, tempat
dan waktu penelitian, subjek penelitian, variabel
penelitian, populasi dan sampel, instrument penelitian,
teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
BAB IV : Laporan dan analisis pengaruh pembelajaran ilmu tajwid
terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa
kelas VII SMP N 1 Sukoharjo.
BAB V : Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran.
3. Bagian akhir
Bagian akhir ini berisikan daftar isi, lampiran-lampiran, dan daftar
riwayat hidup.



contoh skripsi ini bisa anda comot 
jangan lupa komen dan ngintil blog ini untuk kemajuan